Minggu, 17 Februari 2013

MAKALAH AKAD



A.      PENGERTIAN AKAD
Kata akad berasal dari kaata al-‘aqd, yang berarti mengikat, menyambung atau menghubungkan. Dalam hukum Indonesia, akad sama dengan perjanjian.
Sebagai suatu istilah hukum islam, ada beberapa definisi yang diberikan pada akad:
1.      Akad berarti keterkaitan antara ijab (pernyataan penawaran atau pemindahan kepemilikan) dan qabul (pernyataan penerimaan kepemilikan) dalam lingkup yang disyariatkan dan berpengaruh pada sesuatu.[1]
2.      Menurut pendapat ulama Syafi’iyah, malikiyah dan hambaliyah, yaitu: “segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang berdasarkan keinginannya sendiri, seperti waqaf, talak, pembebasan, atau sesuatu yang pembentukannya membutuhkan keinginan dua orang seperti jual beli, perwakilan, dan gadai.”[2]
3.      Akad merupakan pertemuan ijab yang diajukan oleh salah satu pihak dengan kabul dari pihak lain yang menimbulkan akibat hukum pada objek akad.
Akad adalah tindakan hukum dua pihak. Sedangkan tindakan hukum satu pihak, seperti janji memberi hadiah, wasiat, atau wakaf, bukanlah akad, karena  tindakan-tindakan tersebut tidak merupakan tindakan dua pihak, dan karenanya tidak memerlukan qabul. Konsepsi akad sebagai tindakan dua pihak adalah pandangan ahli-ahli hukum islam modern. Pada zaman pra modern terdapat perbedaan pendapat. Sebagian besar fukaha memang memisahkan secara tegas kehendak sepihak dari akad, akan tetapi sebagian lain menjadikan akad meliputi juga kehendak sepihak. [3]
B.      SYARAT-SYARAT AKAD  
            Syarat dalam akad ada empat yaitu:
1.        Syarat terbentuknya akad (syuruth al-In’iqad)
Diantaranya yaitu:
a.    Tamyiz
b.    Berbilang pihak (at-ta’adud)
c.    Persesuaian ijab qabul (kesepakatan)
d.   Kesatuan majelis akad
e.    Objek akad dapat diserahkan
f.     Objek akad tertentu atau dapat ditentukan
g.    Objek akad dapat ditransaksikan (artinya berupa benda bernilai dan dimiliki)
h.    Tujuan akad tidak bertentangan dengan syara’
2.        Syarat sahnya akad ( syuruth ash-shihhah)
            Adalah segala sesuatu yang di syaratkan syara’ untuk menjamin dapat keabsahan akad. Jika tidak terpenuhi, akad tersebut rusak. Ada kekhususan syarat sah akad pada setiap akad. Ulama hanafiyah mensyaratkan terhindarnya seseorang dari enam kecacatan dalam jual beli, yaitu kebodohan, paksaan, pembatasan waktu, perkiraan, ada unsur kemudharatan, dan syarat-syarat jual beli rusak.
3.        Syarat berlakunya akibat hukum (syuruth an-Nadz)
            Dalam pelaksanaan akad, ada dua syarat yaitu kepemilikan dan kekuasaan. Kepemilikan adalah sesuatu yang dimiliki oleh seseorang sehingga ia bebas beraktifitas dengan apa-apa yang dimilikinya sesuai dengan aturan syara’. Adapun kekuasaan adalah kemampuan seseorang dalam ber-tasharuf sesuai dengan ketetapan syara’, baik secar asli, yakni dilakukan oleh dirinya, maupun sebagai penggantian atau menjadi wakil seseorang dalam hal ini di syaratkan antara lain :
·         Barang yang di jadikan akad harus kepunyaan orang yang akad, jika di jadikan , maka sangat bergantung pada ijin pemiliknya yang asli.
·         Barang yang dijadikan tidak berkaitan dengan kepemilikan oranglain.
4.        Syarat mengikatnya akad (syarthul-luzum)
            Dasar dalam akad adalah kepastian. Daiantara syarat luzum dalam jual beli adalah terhindarnya dari beberapa khiar jual beli, seperti khiar syarat, khiar aib dan lain sebagainya. Jika luzum tampak, maka akad batal atau dikembalikan. [4]
C. RUKUN AKAD
Ulama hanafiyah berpendapat bahwa rukun akad adalah ijab dan qabul. Sedangkan menurut ahli-ahli hukum islam kontemporer, unsur yang membentuk akad dan menjadi rukun akad itu ada empat, yaitu:
1.      Para pihak yang membuat akad (al-‘aqidan)
Terkadang masing-masing pihak terdiri dari satu orang. Terkadang terdiri dari beberapa orang.
2.      Pernyataan kehendak para pihak/ijab qabul (Shighatul- ‘aqd)
Contoh ijab adalah pernyataan seorang penjual,’’ saya telah menjual barang hal ini kepadamu.’’ Atau ‘’ saya serahkan barang ini kepadamu .’’ contoh qobul,  ‘’ saya beli barang mu.’’ Atau ‘’saya terima barang mu’’
3.      Dengan demikian ijab qabul adalah suatu perbuatan atau pernyataan untuk menunjukan suatu keridhaan dalam berakad diantara dua orang atau lebih, sehingga terhindar atau keluar dari suatu ikatan yang tidak berdasarkan syara’. Oleh karena itu dalam islam tidak semua bentuk kesepakatan atau perjanjian dapat di kategorikan sebagai akad, terutama kesepakatan yang tidak didasarkan pada keridhaan dan syariat islam.
4.      Objek akad (Ma’qud- ‘aqd)
Adalah benda-benda yang diakadkan, seperti benda-benda yang dijual dalam akad jual beli, dll.
5.      Tujuan akad (maudhu’- al- ‘aqd)
Tujuan atau maksud pokok mengadakan akad. Berbeda akad, maka berbedalah tujuan pokok akad.[5]
            Rukun yang disebutkan di atas, harus ada untuk terjadinya akad. Kita tidak mungkin membanyangkan terciptanya suatu akad apabila tidak ada pihak yang membuat akad, atau tidak ada pernyataan kehendak untuk berakad, atau tidak ada objek akad, atau tidak ada tujuannya.[6]
D. MACAM-MACAM AKAD
1.                  Akad Bernama
            Yang diamksud dengan akad bernama adalah akad yang sudah ditentukan namanya oleh pembuat hukum dan ditentukan  pula ketentuan-ketentuan khusus yang berlaku terhadapnya dan tidak berlaku terhadap akad lain,
            Ahli hukum klasik menyebutkan beberapa jenis akad, sehingga secara keseluruhan akad menurut perhitungan az-zarqa’ mencapai 25 jenis akad bernama, yaitu :
1.                  Jual beli (al-ba’i)
2.                  Sewa menyewa ( al-ijarah)
3.                  Penanggungan ( al-kafalah)
4.                  Pemindahan uang (al-hiwayah)
5.                  Gadai( ar-rahm)
6.                  Jual beli opsi( bai’al-wafa)
7.                  Penipuan (al-ida’)
8.                  Pinjam pakai ( al-i’arah)
9.                  Hibah( al-hibah)
10.              Pembagian(al-qismah)’
11.              Persekutuan(asy-syirkah)
12.              Bagi hasil (al-mudharabah)
13.              Penggarapan tanah (al-muzara’ah)
14.              Pemeliharaan tanaman ( al-musaqah)
15.              Pemberian kuasa (al-wakalah)
16.              Perdamaian (ash-shulh)
17.              Arbitrase(at-tahkim)
18.              Pelepasan hak kewarisan (al-mukharajah)
19.              Pinjam mengganti ( al-qardh)
20.              Pemberian hak pakai rumah ( al-umra)
21.              Penetapan ahli waris ( al-muawalah)
22.              Pemutusan perjanjian atas kesepakatan (al-iqadah)
23.              Perkawinan ( al-zawaj)
24.              Wasiat ( al-washiyyah)
25.              Pengangkatan pengampu ( al-isha)
2.      Akad Tak Bernama
            Akad tak bernama ialah akad yang tidak diatur secara khusus dalam kitab-kitab fikih dibawah satu nama tertentu. Dengan kata lain, akad tak bernama ialah akad yang tidak ditempuh oleh pembuat hukum namanya yang khusus serta ada pengaturan tersendiri mengenainya. Terhadapnya berlaku ketentuan-ketentuan umum akad. Akad jenis ini dibuat dan ditentukan oleh para pihak sendiri sesuai denga kebutuhan mereka . kebebasan dalam membuat akad tertentu ( tidak bernama) ini termasuk ke dalam apa yang disebut dengan kebebasan berakad. Akad tidak bernama ini timbul selaras dengan kepentingan para dan akibat kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Contoh akad tak bernama adalah perjanjian penerbitan,periklanan dans ebaginya .
3.        Akad Pokok Dan Akad Asesoir
            Dilihat dari kedudukannya, akad dibedakan menjadi akad yang pokok ( al-‘aqd al-ashli) dan akad asesoir ( ‘al-aqd at-tab’i).
            Akad pokok adalah akad yang berdiri sendiri yang keberadaannya tidak tergantung kepada suatu hal lain. Termasuk ke dalam jenis ini adalah semua kad yang keberadaannya karena dirinya sendiri, seperti akad jual beli, sewa-menyewa, penitipan, pinjam pakai, dan seterusnya,
            Akad asesoir adalah akad yang keberadaannya tidak berdiri sendiri meliankan tergantung kepapa suatu hak yang menjadi dasar ada dan tidaknya atau sah dan tidak sahnya akad tersebut.  Termasuk dalam kategiri ini adalah  penanggungan( al-kafalah) dan akad gadai (ar-rahn). Kedua kad ini merupakan perjanjian untuk menjamin,karena itu keduanya tidak ada apabila hak-hak yang dijamin tidak ada.
4.        Akad Bertempo Dan Akad Tidak Bertempo
            Dilihat dari unsur tempo di dalam akad, akad dapat dibagi menjadi akad bertempo ( al’aqd az-zamani) dan akad tidak bertempo ( al’aqd al-fauri).
            Akad bertempo adalah akad yang didalamnya ada unsur waktu merupakan unsur asai, dalam arti unsur waktu merupakan bagian dari isi perjanjian. Termasuk dalam kategori ini, misalnya sewa-menyewa, akad penitipan, akad pinjam pakai,akad pemberian kuasa, akad berlangganan surat kabar dan lain sebagainya.
            Akad tidak bertempo adalah akad dimana unsur waktu tidak merupakan bagian dari isi perjanjian. Akad jual beli misalnya, terjadi seketika tanpa perlu unsur tempo sebagai bagian dari akad tersebut.
Bahkan apabila jual beli dilakukan dengan hutang, sesungguhnya unsur waktu tidak merupakan esensial, dan bila telah tiba waktu pelaksanaan, maka pelaksaaan tersebut bersifat seketika dan pada saat itu hapuslah akad kedua belah pihak.
5.        Akad Konsesnual,Akad Formalistik Dan Akad Rill
            Dilihat dari segi formalitasnya, akad dibedakan menjadi akad konsensual (al’aqd ar-radha’i), akad formalistik (al-‘aqdasy-syakli) dan akad rill (al-‘aqd al-‘aini). Dengan akad konsensual dimaksudkan jenis akad yang terciptanya cukup berdasarkan pada kesepakatan para pihak tanpa diperlukan formalitas-formalitas tertentu, seperti akad jual beli, sewa menyewa, utang piutang dan seterusnya.
            Akad formalistik adalah akad yang tunduk kepada syarat-syarat formalitas yang ditentukan oleh pembuat hukum, dimana apabila syarat-syarat itu tidak dipenuhi akad tidak sah. Contohnya adalah akad nikah dimana formalitas yang disyaratkan adalah kehadiran dan kesaksian dua orang saksi.
            Akad rill adalah akad yang untuk terjadinya diharuskan penyerahan tunai objek akad, dimana akad belum tersebut terjadi dan belum menimbulkan akibat hukum apabila belum dilaksanakan, kategorinya yaitu hibah, pinjam pakai, penitipan, kredit (utang) dan akad gadai.
6.        Akad Masyru’ Dan Akad Terlarang.
            Dilihat dari segi dilarang atau tidak dilarangnya oleh syara’, akad dibedakan menjadi dua, yaitu akad masyru’ dan akad terlarang.
            Akad masyru’ adalah akad yang dibenarkan oleh syara’ untuk dibuat dan tidak ada larangan untuk menutupnya, sperti akad-akad yang sudah dikenal luas , seperti akad jual beli, sewa menyewa, mudharabah dan sebagainya.
            Akad terlarang adalah akad yang dilarang oleh syara’  untuk dibuat seperti akad jula beli janin, akad donasi harta anak dibawah umur, akad yang bertentangan dengan ahlak islam dan ketertiban umum seperti sewa-menyewa untuk melakukan kejahatan.
7.        Akad Yang Sah Dan Tidak Sah
            Akad sah adalah akad yang telah memenuhi rukun dan syarat-syarat  sebagaimana ditentukan oleh syara’ . sedangkan akad tidak sah adalah akad yang tidak memenuhi  rukun dan syarat-syarat yang ditentukan oleh syara’.
            Perbedaan akad terlarang dengan akad tidak sah yaitu penekannanya saja , dimana akad terlarang terdapat dalil-dalil syariah yang melarang, akad tidak sah penenkanannaya adalah tidak terpenuhinya rukun syarat akad.
8.        Akad Mengikat Dan Akad Tidak Mengikat
            Akad mengikat (al’aqd al-lazim) adalah akad dimana apabila sleuruh rukun dan sayaratnya terpenuhi, maka akad itu mengikat secara penuh dan masing-masing pihak tidak dapat membatalkannya tanpa persetujuan pihak lain.  Akad jenis ini dibedakan menjadi dua, pertama contohnya akad mengikat dua pihak, contohnya  akad jual beli, sewa-menyewa dan sebagainya. Kedua  akad mengikat satu pihak, contohnya akad kafalah (penangungan) dan gadai(ar-rahn).
            Akad tidak mengikat adalah akad pada masing-masing pihak  dapat membatalkan perjanjian tanpa persetujuan pihak lain. Akad tidak mengikat dibedakan menjadi dua macam, pertama akad terbuka untuk di fasakh, seperti akad wakalah (pemberian kuasa), syirkah (persekutuan) akad hibah, akad wadiah (penitipan), adan akad ‘ariah( pinjam pakai). Dan akad yang tidak mengikat karena di dalamnya terdapat khiyar bagi para pihak.
9.        Akad Nafiz Dan Akad Mauquf
            Akad nafiz adalah akad yang bebas dari setiap faktor yang menyebabkan tidak dapatnya akad tersebut dilaksanakan. Dengan kata lain, akad nafiz adalah akad yang tercipta secara sah dan langsung menimbulkan akibat hukum sejak saat terjadinya.
            Akad mauquf adalah akad yang tidak dapat secara langsung dilaksanakan akibat hukumnya sekalipun telah dibuat secara sah, malainkan masih tergantung (mauquf) kepada adanya ratifikasi ( ijazah) dari pihak berkepentingan.
10.    Akad Tanggungan Akad Kepercayaan Dan Akad Bersifat Ganda.
            Akad tanggungan (n’aqd adh-dhaman) adalah akad yang mengalihkan tanggungan resiko atas kerusakan barang kepada pihak penerima pengalihan sebagai konsekuensi dari pelaksanaan akad tersebut sehingga kerusakan barang yang diterimanya melalui akad tersebut berada dalam tanggungannya sekalipun sebgai kedaaan memaksa.
            Akad kepercayaan (‘aqd-al-amanh) adalah akad dimana barang yang diallihkan melalui akad tersebut merupakan amanah di tangan penerima barang tersebut, sehingga ia tidak berekewajiban menangung resiko atas barang tersebut, keculai kalau ada unsur kesengajaan dan melawan hukum . termasuk akad jenis isi adalah akad penitipan, peminaman, perwakilan(pemberian kuasa).
            Akad yang bersifat ganda adalah akad yang di satu sisi merupakan akad tanggungan , tetapi disisi lain merupakan  akad amanah (kepercayaan). Misalnya akad sewa menyewa  dimana barang yang disewakan adalah amanah di tangan penyewa. Akan tetapi, di sisi lain, manfaat barang yang disewakan merupakan tanggungannya sehingga apabila ia membiarkan barang yang disewanya setelah diterima tanpa ia manfaatkan, maka manfaat  barang tidak dinikmatinya adalah atas tanggungannya, ia wajib membayar utang sewa kepada orang yang menyewakan.
11.         Akad Muwadah, Akad Tabaru, Dan Akad Wuawadah Dan Tabaru Sekalaigus.
            Akad muwadah (‘aqd al-mu’awadah) adalah akad dimana terdapat prestasi yang timbal balik sehingga masing-masing pihak menerima sesuatu sebagai imbalan prestasi yang diberikannya. Misalnya, jual beli, sewa menyewa, pendamaian atas benda dan sebagainya.
            Akad cuma-Cuma ( akad tabaru) (akad donasi) adalah akad dimana prestasi hanya dari salah satu pihak , seperti akad hibah dan pinjam pakai.
            Akad atas beban dan Cuma-Cuma  adalah akad yang pada mulanya merupakan akad Cuma-Cuma, namun pada ahirnya menjadi akad atas beban. Misalnya, akad peminjaman dimana pemberi pinjaman  pada mulanya membantu orang yang diberi pinjaman, dan akad penangguhan dimana penangguhan dimana pada awalnya membantu orang yang di tanggung secara Cuma-Cuma, akan tetapi pada saat pemberi pinjaman menagih kembali pinjamannya maka akadnya menjadi akad atas beban.[7]


[1] Ascarya. Akad dan Produk Bank Syariah.PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2010
[2] Prof.DR.H.Rachmat Syafe’i, MA. Fiqih Muamalah. Pustaka Setia Bandung. 2006
[3] Prof. Dr. Syamsul Anwar, MA. Hukum Perjanjian Syariah. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2007
[4] Prof.DR.H.Rachmat Syafe’i, MA. Fiqih Muamalah. Pustaka Setia Bandung. 2006. Hal 65
[5] Prof. Dr. H. Abdul Rahman Ghazaly, M.A. dkk. Fiqh Muamalat. Kencana Prenada Media Group. Jakarta. 2010
[6] Prof. Dr. Syamsul Anwar, MA. Hukum Perjanjian Syariah. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2007. Hal. 96
[7] Prof. Dr. Syamsul Anwar, MA. Hukum Perjanjian Syariah. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2007. Hal.73-83

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar